Google.com

Google.com

Makna Tasawuf dalam Islam

Kami yakin, bahwasanya kata “tasawuf “ sudah tidak asing lagi bagi umat Islam, terlebih lagi bagi warga NU yang disadari atau tidak, tasawuf telah mengambil peran tersendiri dalam budaya dan kehidupan sehari-hari mereka. Semua itu tidak mengherankan,karena kalau kita lihat kembali dalam  buku Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah[1] yang ditulis oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Dalam buku tersebut, kita akan melihat bahwa ormas NU dalam bidang tasawuf mengikuti metode Imam Abul Hasan Al-Syadzili atau Abu Hamid Al-Ghazali, dan itu sudah di jelaskan secara eksplisit oleh beliau. Hanya saja akhir-akhir ini ada beberapa orang yang masih mempersoalkan atau lebih tepatnya menghujat tentang kebenaran dan keabsahan tasawuf sebagai ajaran Islam. Hal itu muncul entah karena ketidak pahaman mereka atas esensi tasawuf atau karena mereka melihat banyak penyimpangan -dari beberapa orang yang mengaku sebagai pelaku tasawuf pada era sekarang- atas ajaran Islam, lalu mereka pukul rata bahwa tasawuf adalah sebuah ajaran yang sesat dan bukan ajaran Islam. Atau memang mereka membenci ajaran tasawuf itu sendiri[2]. Entahlah, kami tidak ingin terlalu ambil pusing tentang alasan mereka. Akan tetapi, Insyaallah dalam tulisan singkat ini akan sedikit kita kupas hal-hal tersebut, yakni “benarkah tasawuf termasuk ajaran Islam?”

  1. A.    Definisi Tasawuf.

Kalau kita perhatikan dan cermati beberapa buku yang membahas tentang tasawuf, mungkin sulit bagi kita untuk menemukan definisi tasawuf yang jami’ mani’ dan sesuai dengan kaidah ilmu Manthiq. Tapi kita hanya akan temukan beberapa ungkapan-ungkapan para sufi yang berbeda satu dengan lainnya saat ditanya tentang apa itu tasawuf. Ada yang mengatakan bahwa tasawuf adalah meninggalkan semua tingkah laku yang tercela dan menghiasi diri dengan budi pekerti terpuji, seperti diungkapkan oleh Imam Al-Junaid[3]. Ada juga yang mengatakan bahwa tasawuf adalah mengambil esensi setiap sesuatu dan tidak melihat ataupun mengharapkan apa yang ada dalam genggaman makhluk,sebagaimana dikatakan oleh Imam Ma’ruf Al-Karkhi[4] atau sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari bahwa tasawuf adalah Ilmu untuk mengetahui tata cara mensucikan jiwa, membersihkan akhlak dan melakukan ajaran Islam, baik lahiriah ataupun bathiniah guna memperoleh kesejahteraan abadi[5] dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan yang lain.

Yaa… Memang inilah kenyataannya. Kita sulit untuk menemukan sebuah definisi yang sesuai dengan kaidah ilmu Manthiq, akan tetapi semua perkataan tadi menunjukkan satu muara makna tentang esensi tasawuf, yaitu usaha seseorang untuk menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji seperti zuhud, wara’, tawadhu’ dan lainnya, serta menjauhi semua sifat  yang tercela seperti dengki, ujub, riya’ dan lainnya. Di samping itu, sebelumnya juga harus mengetahui ilmu-ilmu yang diwajibkan baginya serta mengamalkannya dan menjauhi hal yang dilarang oleh syara’, dan sungguh mengherankan jika kemudian ada orang yang menganggap ‘miring’ ajaran tasawuf yang indah dan mulia ini.

Mungkin ada yang merasa aneh dan janggal kenapa ungkapan para Sufi di atas berbeda satu dengan yang lainnya, akan tetapi bagi yang tahu bahwa tasawuf adalah ilmu bersifat dzauqiyah (intuisi) maka keheranan itu akan lenyap dengan sendirinya. Karena tentunya apa yang dirasakan oleh satu orang dengan lainnya berbeda sebagaimana hal itu diungkapkan oleh Imam Ibnu ‘Ajibah Al-Husaini dalam syarah Hikamnya[6].

 

  1. B.     Dalil-dalil tentang kebenaran Tasawuf.

Kalau kita perhatikan, kata “tasawuf” belum ditemukan pada era Sahabat, baik ketika baginda Nabi Muhammad Shallahu alaihi wa sallam masih hidup atau ketika beliau sudah wafat. Tetapi itu menjadi alasan atau hujjah bahwa tasawuf adalah bid’ah dhalalah yang sesat dan haram dilakukan atau bahkan dianggap musyrik bagi orang yang melakukannya. Dalam poin ini akan kami paparkan beberapa dalil yang membuktikan bahwa ajaran tasawuf yang murni adalah bagian dari ajaran Islam.

1)   Dalil secara riwayah.

Adapun dalil tentang kebenaran tasawuf dari sisi ilmu riwayah, maka kami telah menemukan beberapa mata rantai riwayat yang bersambung kepada baginda Nabi Muhammad. Yaitu dari Nabi Muhammad mengajarkan kepada sayyidina Ali lalu beliau ajarkan kepada Al-Hasan Al-Bahri lalu beliau ajarkan kepada Habib Al-‘Ajami lalu beliau ajarkan kepada Dawud At-Thai lalu beliau ajarkan kepada Ma’ruf Al-Karkhi lalu di ajarkan kepada Sirri As-Siqthi dan Al-Junaid Al-Baghdadi, dan dari Al-Junaid inilah kemudian ajaran tasawuf menyebar[7]. Pada riwayat lain disebutkan aAbu Muhammad Jabir, beliau kepada Sa’id Al-Ghazwani, beliau kepada Fath As-Su’ud dan terus bersambung kepada Al-Imam Abul Hasan Asy-Syadzili[8]. Kami kira sudah cukup dengan dua mata rantai sanad untuk menjadi bukti keabasahan ajaran tasawuf yang ada sekarang.

2)   Dalil secara Dirayah.

Adapun dalil tentang kebenaran tasawuf dari sisi dirayah maka tidak berlebihan jika kami katakan bahwa kebanyakan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan Hadis Nabi mengajak kita umat manusia untuk tidak merasa nyaman dengan kenikamatan dunia dan segala hiruk pikuknya, sehingga bisa kembali kepada fithrah untuk apa dia diciptakan oleh sang Khaliq, yaitu hanya beribadah kepada-Nya. Tapi dalam kesempatan ini akan kami sebutkan beberapa dalil dari ayat Al-Qur’an ataupun dari Hadis.

Al-Qur’an :

Allah berfirman dalam surat An-Nazi’at, ayat : 40-41.

وأما من خاف مقام ربه و نهى النفس عن الهوى فإن الجنة هي المأوى

Dan adapun orang-orang yang takut akan kebesaran tuhannya dan menahan diri (keinginan) hawa nafsu, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya”.

Dalam ayat ini Allah memuji orang yang selalu muroqobah serta tidak mengikuti hawa nafsunya dan menjanjikan surga baginya. Tentunya orang yang menundukkan hawa nafsunya harus mengetahui tata cara bagaimana melatih nafsunya tadi, sehingga dia benar-benar memperoleh apa yang telah dijanjikan oleh Allah sebagaimana ayat di atas. Makanya tidak heran jika kita temukan banyak dalam kitab tasawuf yang membahas tentang ahwal nafsu, baik yang terpuji ataupun yang tercela. Kiranya satu ayat ini bisa menjadi muqaddimah bagi kajian tasawuf selanjutnya, Karena sebenarnya masih banyak sekali ayat-ayat lain yang tidak mungkin kami sebutkan satu persatu dalam tulisan singkat ini.

Hadis:

Ibnu Umar berkata: Rasulullah memegang pundakku lalu beliau berkata:

كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل

Artinya: “Jadilah kamu di dunia ini bagaikan orang asing atau orang yang hanya sekedar lewat saja”. (HR. Al-Bukhari: 6416).

Ibnu Umar berkata: “Jika kamu berada di sore hari maka janganlah kau menunggu datangnya pagi dan sebaliknya, saat kamu berada di pagi hari maka janganlah kau tunggu sore hari. Ambillah kesempatan sehatmu sebelum tiba waktu sakitmu, dan ambillah kesempatan hidupmu untuk beramal sebelum tiba ajalmu”. Imam Abul Hasan Ali bin Khalaf dalam syarah kitab Al-Bukhari berkata: Abu Zinad berkata: “Arti dari Hadis ini adalah sebuah motivasi agar tidak terlalu sering berurusan dengan manusia, tidak terlalu sering ikut-ikutan dan zuhud akan dunia”. Al-‘Izz ‘Alauddin bin Yahya bin Hubairah berkata: “dalam hadis ini baginda Nabi memotivasi umatnya dalam menghadapi kehidupan dunia untuk menyerupai orang yang bepergian, ketika dia masuk dalam satu daerah tidak ada keinginan dalam hatinya untuk bersaing dengan penduduk daerah tersebut dalam setiap perkumpulannya, tidak bersedih jika dilihat berbeda dari kebiasaan mereka dan tidak menjadikan daerah tersebut sebagai tempat singgahnya”[9].

  1. Penutup.

Dari kajian singkat dan ringan diatas setidaknya kita bisa merasakan dan menyimpulkan bahwa tasawuf memang benar-benar bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis yang kemudian difahami oleh para sahabat dan diajarkan kepada murid-murid mereka, yakni para tabi’in, lalu pada tabi’it tabi’in dan seterusnya hingga sampai pada kita sekarang ini. Akhirnya kami hanya bisa mengutip sebuah syair yang menjadi renungan bagi kita semua:

من ذاق طعم شراب القوم يدريه # ومن دراه غدا بالروح يشريه

Siapa saja yang telah merasakan manisnya minuman kaum ini maka merekalah yang tahu, dan siapa saja yang sudah tahu maka dia akan berusaha untuk memperolehnya, walaupun nyawa sebagai taruhannya”.

 

Ditulis oleh : Dhliya’ul Haq



[1] Syekh hasyim asy’ari, Irsyadus Saari, Jombang: percetakan pesantren Jombang, hal: 9.

[2] Tanpa mengesampingkan bahwa memang ada beberapa pelaku tasawuf yang amalannya tidak sesuai dengan ajaran Islam, tapi pembahasan kami di sini adalah ingin sedikit mengupas tentang esensi dari tasawuf itu sendiri.

[3] DR. Jamil Halim Al-Husaini (2008), At-Tasyarruf Bi Dzikri Ahlit Tasawuf, Beirut: Dar el-Masyari’,hal: 11.

[4] Abul Qasim Al-Qusyairi (tt), Risalah Qusyariyah, Beirut: Muassasah Kutub Tsaqafiyyah, hal: 274.

[5] DR. Jamil Halim. Op. Cit, hal: 12.

[6] Syekh Ahmad Bin ‘Ajibah Al-Husaini, Iqadzul Himam Fi Syarkhil Hikam, Beirut: Dar el-Kutub, hal: 16.

[7] DR. Samir Al-Qadhi (2012), Al-Barahin ‘Ala Shidqi Haditsati Maddil Yadain, Beirut: Dar El-Masyari’, hal: 345.

[8] Syekh Ahmad bin ‘Ajibah. Op. Cit, hal: 17-18.

[9] Penjelasan ini kami ringkas, bagi yang ingin lebih jelas bisa langsung baca kitab aslinya. Taqiyyuddin Ibnu Daqiq Al-‘Id (2012), Syarah Hadis Al-Arba’in, Beirut: dar el-Masyari’, hal: 196.